Sisi Lain Patriarki

Selama 500 tahun terakhir 
bangsa Nuswantara dan mayoritas dunia 
disetir oleh patriarki—sebuah sistem sosial 
dimana ayah atau anak laki-laki pertama 
adalah pemimpin keluarga, dan garis keturunan 
dilihat hanya dari sisi ayah.

Patriarki (maupun matriarki) bisa 
menjadi hal yang baik jika masyarakat sudah berkesadaran. 

Namun yang terjadi selama ini malah 
semua efek negatif dari patriarki: keinginan 
untuk menguasai dan mengendalikan orang lain 
karena tidak ada pengendalian diri; 
karena manusia tidak mengenal diriNya sendiri.

Akibatnya kita banyak mendengar kasus kekerasan, 
pemaksaan, serta ketidakadilan dalam hierarki 
sosial ekonomi, gender, etnis dan ras, 
hingga penindasan dan perang.

Kelahiran dan keberadaan anak perempuan 
kurang dihargai, sedangkan anak laki-laki 
mendapatkan semua hak istimewa.

Kita lupa, bahwa laki-laki dan perempuan 
berjalan sejajar dalam peran masing-masing.

Laki-laki yang meneruskan garis keturunan, 
tetapi menitipkan janin di rahim perempuan.

Laki-laki yang menafkahi dan melindungi keluarga, 
tetapi perempuan merawat dan menghidupkan rumah.

Laki-laki lebih kuat secara fisik dan logika, 
tetapi perempuan kuat secara mental dan emosi.

Laki-laki menjadi kepala, tetapi perempuan adalah jantung—
otak dan jantung harus bekerja sama supaya tubuh bisa berfungsi baik.

Jika ingin patriarki berjalan dengan efektif, 
setiap manusia harus terlebih dahulu 
menyelaraskan sisi feminin dan maskulin dirinya.

Yang laki-laki bijaksana dan berwibawa, 
yang perempuan lembut penuh welas asih.

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono 
Pertama kali tayang 5 Mei 2025 di akun IG @ratuvictoria

Komentar