Agama Bumi
Dari sekian banyak agama & kepercayaan di dunia,
semua bisa digolongkan menjadi dua (dengan banyak istilah berbeda):
Agama Langit (agama semitik / agama kenabian /
agama wahyu / agama samawi / religi) dan
Agama Bumi (agama timur / agama spiritualitas /
agama alam / agama ardhi / mindfulness).
Agama Bumi lebih sering disebut aliran kepercayaan
dan mengasosiasikan alam dengan sosok dewa-dewi
(yang dalam agama Langit dikenal dengan sosok malaikat).
Sejak dahulu kala, leluhur Nuswantara mengenal agama Bumi
(yang disebut agama budhi/akal sehat atau agama budha/awal mula]—
tetapi ketika tren agama Langit masuk ke Bumi Nuswantara,
agama asli ini tersingkir.
Padahal agama Bumi mengajarkan manusia untuk
menyadari dan menghargai keberadaan setiap makhluk hidup—
berterima kasih atas peran mereka dalam menjaga keharmonisan kehidupan di Bumi.
Agama Bumi melatih kepekaan dan kesadaran manusia,
sebagai Semesta Kecil (Jagad Alit/Buana Cilik)
yang tak terpisah dari Semesta Raya (Jagad Ageng/Buana Gede).
Agama Bumi mengajarkan keseimbangan dan keselarasan,
kedamaian dan keberlangsungan.
Sementara Agama Langit memberi gambaran, perintah, dan larangan bagi manusia,
agama Bumi mengajak manusia untuk menyadari
keberadaannya secara utuh di dunia ini.
Mana yang lebih sesuai untukmu?
Yuk, sadar yuk!
Pertama kali tayang 4 Desember 2022 di akun IG @ratuvictoria
_____
Bagian 2
Agama Bumi disebut sebagai agama budhi,
karena mendasarkan “ajaran”-nya pada akal sehat.
Ada juga yang menyebutnya agama budha atau awal,
karena sudah dijalankan jauh sebelum agama Langit masuk ke Nuswantara.
Apa perbedaan mendasar keduanya?
Agama Langit memberi gambaran pada manusia
bahwa tempat bernama surga ada di atas langit/di akhirat,
sedangkan agama Bumi menyadarkan manusia
bahwa kondisi surgawi berada di atas Bumi,
di dalam Diri masing-masing, pada saat kita hidup.
Itu sebabnya agama Bumi tidak mengenal nabi,
karena masing-masing individu harus menemukan jalanNya sendiri.
Ada yang berperan sebagai guru,
yaitu mereka yang menunjukkan pintu (gerbang) bagi yang lain.
Namun untuk melewati pintu itu, masing-masing harus menjalaninya sendiri.
Seperti yang disebutkan leluhur Jawa:
“ngelmu iku kelakone kanthi laku”,
manusia bisa berilmu (paham) setelah melewati proses lahir dan batin.
Inilah yang disebut dengan perjalanan spiritual (atau kebatinan)—
karena ini merupakan proses pemahaman dan kesadaran pribadi setiap manusia.
Tak bisa dipungkiri, kadang proses ini harus lewat agama Langit dulu,
untuk memahami agama Bumi.
Lebih banyak tentang agama Bumi,
bisa kalian pahami lewat novel Gerbang Nuswantara.
Yuk, paham yuk!
Komentar
Posting Komentar
Silakan bagikan pemikiranmu di sini: