Biru dan Merah

Pernahkah kamu perhatikan, 
bahwa biru identik dengan laki-laki dan merah perempuan?

Padahal sebelum abad ke-19 
bayi laki-laki dipakaikan baju pink dan bayi perempuan biru muda.

Ini karena pink adalah gradasi warna merah 
yang merupakan warna maskulin yang panas, bersemangat, dan aktif.
Sedangkan biru adalah warna feminin yang lembut dan menenangkan.

Kenyataan bahwa ada yang mengubah pola ini 
tanpa disadari membentuk karakter perempuan generasi modern lebih agresif 
dan laki-laki menjadi pengecut.

Dalam sistem pusaran energi tubuh manusia (cakra/aura), 
warna merah menguasai ranah mendasar 
seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan, dan rasa aman; 
yang seharusnya menjadi tugas para pria untuk menopang keluarga.

Sedangkan warna biru berada di area tenggorokan dan mata ketiga, 
yang merupakan sifat feminin yang mampu mengekspresikan diri dan intuitif.

Pada zaman dahulu bangsa kita mengenal keratuan (keraton), 
bukan kerajaan—karena yang seharusnya berkuasa adalah sifat feminin 
yang ditopang maskulin (cakra mahkota berwarna ungu); 
menjadikan seseorang bijaksana dan karismatik.

Namun ketika maskulin memegang kendali, 
yang kita temukan adalah manusia temperamen 
yang ingin mendominasi, dan berujung perang.

Ada yang salah di dunia modern ini, 
karena kita tidak lagi mengikuti ajaran nenek moyang bangsa.

“Kenali sejarah dan leluhurmu, 
maka kamu akan tahu jati dirimu sebenarnya.”
(buku Gerbang Nuswantara)

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 16 Oktober 2024 di akun IG @ratuvictoria

Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender