Hukum Keesaan Ilahi

Salah satu dari 12 Hukum Semesta Alam Yang Kekal
adalah Hukum Keesaan Ilahi.

Ini artinya, Sang Ilahi bersifat “esa”, tunggal atau satu kesatuan;
yang artinya hanya ada satu kebenaran Sejati (yang kita sebut sebagai Tuhan).

Namun manusia serba terbatas
dan hanya mampu memahami sebagian kecil atau dari satu sisi saja,
yang menjadikan adanya perbedaan dengan orang lain.

Bayangkan sebuah objek seni yang dipajang di tengah ruangan
dan 10 orang berkumpul memandanginya. 

Ada yang melihat dari utara, selatan, dst—bahkan masih ada
sisi atas dan bawah yang sering luput dari pandangan manusiawi.

Setiap manusia berpikir pandangannya-lah yang paling benar,
dan menafikan yang lain.

Ini adalah sistem berpikir dalam ranah dualitas
dimana pemikiran kita adalah yang benar dan orang lain salah.
Padahal, hanya berbeda sudut pandang saja. 

Berbeda bukan berarti salah atau jadi musuh—
kita hanya tidak melihat kebenaran dari sudut pandang lain atau seutuhnya.

Thich Nhat Hanh* berkata:
“Pencerahan terjadi ketika
sebuah ombak menyadari bahwa
dirinya adalah samudera.”

Artinya, kita mulai berspiritual ketika menyadari
bahwa sesungguhnya segala hal di dunia ini saling berkaitan
meski secara fisik kita melihatnya terpisah.

Orang dan kejadian di luar diri kita tak lain adalah cerminan energi kita,
dan mereka dihadirkan supaya kita bisa bercermin dan berbenah diri.

Jadi, selalu kembali ke dalam diri,
karena jawabanNya sudah ada di sana.

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 23 Agustus 2024 di akun IG @ratuvictoria

_____


*) Thích Nhất Hạnh (1926-2022) adalah seorang biksu Buddha Thiền Vietnam, aktivis perdamaian, penulis, penyair, dan guru yang produktif, yang mendirikan Tradisi Plum Village. Nhất Hạnh memiliki pengaruh besar pada praktik Buddhisme Barat dan dikenal sebagai "bapak kesadaran".

Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender