Jawa itu Sadar
Kita telah mendengar peribahasa
“Di mana Bumi dipijak, di situ Langit dijunjung.”
Ini artinya, di mana pun kita berada kita harus menghormati
serta mengikuti adat istiadat dan nilai-nilai yang berlaku di wilayah tersebut.
Namun yang banyak terjadi adalah sebaliknya:
kita membawa aturan dari rumah masing-masing
dan menerapkannya di tempat yang kita kunjungi.
Mungkin tidak semua anak diajarkan hal ini,
tetapi ini merupakan peraturan dasar tak tertulis
yang dianggap dipahami setiap orang.
Mirisnya, bahkan kebanyakan anak bangsa Nusantara
tidak mengenal budaya dan ajaran leluhurnya sendiri;
kebanyakan lebih fasih bahasa asing daripada bahasa daerah.
Sejak pamomong raja Jawa, Sabdo Palon Naya Genggong,
meninggalkan kita 500 tahun silam, Majapahit runtuh
dan bangsa ini dijajah ideologi import yang malah kita jadikan pedoman.
Sedangkan kita tidak mengenal sejarah dan leluhur sendiri,
apalagi ilmuNya; karena dicap sesat.
Padahal setiap wilayah sudah punya “penguasa”
dan aturannya masing-masing.
“Jawa” sendiri artinya “paham, sadar”;
dan ajaran “agama” Budi adalah yang dalam bahasa Inggris
disebut sebagai “mindfulness” (hidup berkesadaran; eling lan waspada);
sebuah falsafah hidup berdasarkan rasa/kawruh jiwa.
(kawruh = mengenal; melihat; tahu—mengenal Diri Sejati)
[Di tempat lain disebut Zen (Jepang), Hygge (Denmark), Lagom (Swedia), dst.]
Itu sebabnya orang Jawa disebut sudah hilang “jawa-nya”
karena hidup dalam ketidaksadaran.
(cek artikel “Kenapa Kita Tidak Sadar”)
Doktrin dari luar membuat kita lebih banyak mengikuti gagasan dan emosi,
sehingga tidak melihat kenyataan apa adanya.
Dengan berlatih netral setiap saat, kita mampu menggunakan nalar
sehingga bisa memisahkan ilusi dari fakta.
Hasilnya, hidup damai penuh penerimaan
karena tidak lagi memaksakan pemikiran.
Yuk, sadar yuk!
Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 21 Oktober 2024 di akun IG @ratuvictoria
Komentar
Posting Komentar
Silakan bagikan pemikiranmu di sini: