Keluar dari Sistem

Apa kamu sedang merasa buntu 
dan segalanya terasa salah?

Bisa jadi ini karena kita membatasi pemikiran dan terjebak di dalamnya, 
yang merupakan efek samping doktrin yang ditanamkan sejak kecil, 
sehingga pemikiran kita berputar hanya di ranah 
materi dan kewajiban (syariat-tarekat) saja.

Sistem 500 tahun terakhir—sejak Sabdo Palon meninggalkan tanah Jawa—
dibuat untuk memisahkan antara yang nyata (sains) dan tidak nyata (ilahi) 
sehingga pembelajaran di kelas IPA sangat bertolak belakang dengan kelas agama—
sehingga pola pikir kita terbiasa untuk memilah yang paling sesuai saja.

Sistem ini sudah tidak lagi cocok untukmu 
jika kamu mulai mempertanyakan makna hidup yang lebih mendalam; 
ini tandanya kamu sudah siap untuk “naik kelas” 
ke ranah batin atau hakikat-makrifat.

Di sini kamu akan mulai melihat hal-hal dengan cara berbeda, 
masuk ke intinya—di ranah fisika kuantum.

Begitu kita mampu memahami polanya 
kita bisa melihat bahwa segala hal berhubungan satu dengan lainnya, 
dan bahwa keterpisahan hanya terjadi di pikiran kita saja.

Pada akhirnya, kita akan bisa menjalani semua petuah leluhur untuk 
eling lan waspada (mawas diri dan siaga), 
sugih tanpa bandha (kaya tanpa harta), 
digdaya tanpa Aji (sakti tanpa mantra), 

nglurug tanpa bala (menyerang tanpa pasukan), 
menang tanpa ngasorake (menang tanpa menjatuhkan), dan 
memayu hayuning bawana (memperindah dunia yang sudah indah).

Intinya, kita tak perlu lagi mumet berpikir, 
tinggal menjalani hidup dalam kesadaran penuh.

Dengan begitu, orang Jawa akan kembali jawa (sadar) 
dan kita jadi orang bebas merdeka tanpa ketakutan.

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 29 November 2024 di akun IG @ratuvictoria

Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender