Ketika Hidup Terasa Kejam

Apa kamu sedang berpikir rasanya dunia tidak adil
dan orang-orang jahat padamu? 
Apa kamu merasa tidak beruntung atau selalu tertimpa masalah?
Apa kamu marah ketika seseorang mengkritik
atau menyampaikan kekuranganmu?

Apa kamu punya “daftar kesalahan” (baik jenis kesalahannya
dan orang yang melakukannya) dalam setiap kejadian hidupmu?

Hati-hati, ini adalah ciri-ciri mentalitas korban*. 

Artinya, kamu menempatkan diri sebagai pusat dunia
dan merasa orang lain harus baik padamu.
Mungkin kamu lupa, di dunia ini ada 8 milyar jiwa
dan semua orang spesial karena semua dilahirkan unik, 
punya peran berbeda.

Jadi tidak ada yang sespesial itu,
karena kita punya hak dan kewajiban asasi yang sama.

Tugas kita hidup adalah saling berbagi, saling membantu.
Ketika kamu hanya menuntut orang membantumu
dan tidak mau berpartisipasi membantu dirimu sendiri, 
kamu membuat Semesta menghadirkan
lebih banyak “cobaan” untuk membuatmu sadar.

Dengan mengenal Diri Sejatimu serta mengambil tanggung jawab
dalam setiap keputusan dan kejadian hidupmu,
kamu ikut memperindah dunia yang sudah indah ini . 

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 24 November 2022 di akun IG @ratuvictoria

_______


*) Mental korban atau victim mentality adalah cara pandang kehidupan dari tingkat kesadaran paling rendah, yaitu berpikir bahwa “hidup terjadi pada saya”. Dengan dasar pemikiran seperti ini kita seolah mengizinkan diri kita menyalahkan orang lain, keadaan, atau Tuhan atas kesulitan hidup. Kita akan menciptakan seribu satu alasan untuk menghindar dari tanggung jawab kita, dan merasa serba terbatas dan tidak punya pilihan. Hidup terasa berat dan kehadiran orang lain hanya membebani.

Untuk naik ke tingkat kesadaran lebih tinggi, kita harus berhenti menyalahkan. Di tahap ini kita mengambil tanggung jawab penuh atas segala hal yang terjadi dalam hidup kita, termasuk untuk menyembuhkan segala luka batin. Dengan begitu kita jadi bisa melihat hikmah dari peristiwa kehidupan. Pandangan tentang kehidupan berubah menjadi “hidup terjadi untukku” dan semua peristiwa menjadi sarana untuk pembelajaran jiwa.

Untuk naik lagi ke tingkat berikutnya, kita perlu melepaskan kendali atas apa yang terjadi. Otomatis kita akan mulai melihat hal-hal sebagaimana adanya dan lebih mudah menerima kenyataan. Pandangan kehidupan berubah lagi menjadi “hidup terjadi melalui aku” dan intuisi kita lebih tajam terasah. Kita mulai menyadari andil kita dalam kehidupan secara umum, hidup tidak lagi berat tapi segalanya terasa mudah dan mengalir. Segala hal berjalan lancar dan harmonis.

Terakhir, kita perlu melepaskan keterikatan atau kemelekatan terhadap apapun. Hal ini terjadi di area kuantum dimana kita bisa melihat segala hal sebagai energi. Tidak ada lagi keterpisahan antara kita dengan orang lain, dengan alam, dengan dunia, dengan Tuhan. Pandangan kehidupan menjadi “hidup adalah aku” dan kita adalah bagian dari segalanya.

Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender