Modus Bertahan Hidup
Banyak dari kita yang tidak sadar
bahwa kita sedang berada di modus bertahan hidup*.
Ciri-cirinya antara lain:
1.
Kita memaksakan pemikiran kita dan tidak bisa menerima kenyataan.
Hasilnya kita jadi (kecewa atau) stress sendiri
karena kenyataan tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
2.
Kita lebih banyak defensif
ketika ada masukan yang disampaikan orang lain
ketimbang menjadikan kritik itu sebagai bahan
untuk kontemplasi diri dan meningkatkan kesadaran,
3.
Waktu kita habis untuk merasa cemas, takut, berambisi,
penuh sesal, sedih, tersinggung, atau marah untuk banyak hal.
4.
Yang perempuan energinya menjadi maskulin (agresif,
mengontrol, kompetitif, menghindar, kasar, dsb)
dan yang laki-laki energinya jadi feminin (merasa tidak aman,
berketergantungan, manipulatif, emosional, tidak stabil, dsb).
Jika dibiarkan, modus ini menjadikan kita manusia toksik
untuk orang lain dan juga diri kita sendiri.
Pikiran kita terbentur-bentur dengan batasan yang kita ciptakan sendiri.
Supaya sembuh, kita perlu mencari pertolongan
dan menghadapi ketakutan yang selama ini kita hindari.
Kita tau kita sudah sembuh
jika kita sudah penuh Cinta Kasih (welas asih),
tidak lagi terpengaruh omongan orang lain, penuh inisiatif,
produktif, dan menjadi versi terbaik Diri kita sesuai rancanganNya:
Yang perempuan kembali feminin (intuitif, membumi,
penuh kelembutan, punya batasan, mengasuh, dst)
dan yang laki-laki maskulin (disiplin, percaya diri, logis,
punya integritas, melindungi, dst).
Hidup terasa indah, semua mengalir dan berjalan lancar.
Yuk, sembuh yuk!
Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 16 November 2023 di akun IG @ratuvictoria
_______
*) Modus bertahan hidup (survival mode) adalah sistem yang kita ciptakan sendiri dalam kepanikan untuk mengatasi masalah, terutama dari trauma di masa kecil (childhood trauma) akibat kecewa atau terluka secara batin. Manusia punya cara berbeda untuk mengatasi trauma; yang paling umum adalah fight or flight (melawan atau kabur) dan empat metode lain, yaitu freeze (terpaku), fawn (menjilat), flood (meluber), flop (kelelahan).
Modus bertahan hidup adalah produk dari batin yang terluka. Dalam ranah spiritualitas dikenal sebagai wounded soul dimana seseorang akan bersikap kebalikan dari rancangan Agung dirinya.
Wounded masculine (laki-laki yang terluka) cenderung manja, tidak bisa diandalkan, bergantung pada orang lain, takut gagal, agresif, dingin dan berjarak, egois, membela diri sendiri, dst. Hal ini kebalikan dari sifat maskulin yang (pro)aktif, bisa diandalkan, tidak berprasangka, menyediakan, mengayomi, fokus, disiplin, berkomitmen, memimpin, jujur, rendah hati, dst.
Sedangkan wounded feminine (perempuan yang terluka) cenderung tidak percaya diri, membutuhkan validasi dari orang lain, manipulatif, mengemis cinta atau malah bersikap tidak membutuhkan orang lain, dst. Ini semua bertolak belakang dengan sifat feminin yang punya batasan sehat, mendukung, mengasuh, penuh welas asih, mau menerima, intuitif, kreatif, tidak malu meminta bantuan, dst.
Komentar
Posting Komentar
Silakan bagikan pemikiranmu di sini: