Spiritual Healer

Belakangan ini banyak orang melabeli dirinya
sebagai spiritual healer, coach, guru (spiritual), dsb,
tetapi hanya sedikit yang energinya benar-benar sesuai.

Spiritual healer, menurut kamus Cambridge,
artinya orang yang mencoba membuat orang lain sehat
tanpa obat-obatan atau metode fisik.

Kebanyakan orang berpikir ini praktik supranatural
(berharap bisa diterawang), padahal ranah spiritual adalah
“segala hal yang berkaitan dengan jiwa kita”;
maka yang “disembuhkan” ada di ranah batin,
dimulai dari pikiran.

Kebanyakan orang berpikir berdasarkan pengetahuan,
sedangkan seorang healer menggunakan nalar* 
sehingga bisa tahu persis apa yang tidak beres.

Kebanyakan orang memang lebih suka jalan pintas,
hanya ingin datang minta obat/dukungan,
berharap pulang langsung sembuh—
tidak mau menjalani prosesnya (ini adalah mental korban).

Namun para healer akan memaksa kita
untuk menyembuhkan diri sendiri dengan cara
membongkar kerangka berpikir kita supaya tidak terjebak ilusi.

Healer sejati adalah para empath yang mudah menyerap energi rendah
dan mengisinya ulang dengan energi tinggi—
itu sebabnya banyak orang yang merasa bebannya lebih ringan
setelah sesi dengan healer.

Karena itu para healer juga perlu waktu dan energi
menetralkan diri mereka lagi, supaya siap untuk membantu orang berikutnya.

Healer bukanlah sebuah profesi, melainkan bagian dari diri seseorang,
berdasarkan komponen DNA-nya**,
yang tidak bisa dia pungkiri atau ditiru orang lain.

Jadi, hati-hati dengan kata “healer”, karena bisa menjadi jebakan.

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 23 Maret 2024 di akun IG @ratuvictoria

_____


*)  nalar berada di tingkat kalibrasi 400 dari Peta Kesadaran David R. Hawkins.
**) yang juga bisa kita lihat dari tanggal lahir (primbon, weton, wariga belog, numerologi, astrologi, bazi, ziwei, vedic, celtic, dst)

Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender