Tentang Citra

“Jangan temui pahlawanmu,” katanya.

Pernahkah kamu bertemu dengan idola tapi jadi kecewa?
Ini terjadi karena salah satu fungsi otak adalah berimajinasi.
Dari sedikit informasi saja kita bisa mengembangkan
suatu narasi—sebuah ilusi—yang seringkali kita genggam
jika kita tidak kenal Diri Sejati kita.

Kita menyukai orang lain karena adanya suatu kesesuaian
dengan diri kita (entah prinsip/selera yang sama atau tersentuh
karena ucapan/perbuatan mereka atau mereka
sesuai dengan bayangan manusia sempurna versi kita).

Ketika mengidolakan, kita menempatkan mereka di sebuah panggung,
dengan semua dekorasinya.
Biasanya ini menjadikan mereka sempurna tanpa cacat.

Ketika akhirnya kita bertemu, kita jadi melihat sisi lain mereka,
yang seringkali tidak kita sangka.
Begitu juga dengan orang di sekitar kita.
Keluarga, teman, atau pasangan.

Ada citra* yang kita lihat dan pegang tentang mereka,
yang membuat kita berharap mereka bisa selalu sesempurna itu.

Belajar melihat semua hal apa adanya supaya tidak terjebak ilusi.

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 23 Mei 2023 di akun IG @ratuvictoria

_______


*) Citra (image) adalah rupa; gambar; gambaran mengenai seseorang atau sesuatu. Pikiran kita terbiasa untuk berimajinasi dan melekatkan sebuah citra ketika mendengar atau membaca tentang suatu hal, apalagi jika hal itu diberitakan dengan meyakinkan. Inilah bahayanya jika pikiran kita melekat dengan sebuah citra—karena citra hanyalah gambaran, bukan kebenaran.

Dan biasanya kita menderita karena citra yang kita ciptakan sendiri. Keinginan, kebencian, kecemburuan, atau ketakutan membuat kita menciptakan mekanisme pertahanan diri dan bersembunyi di balik selubung ego yang memisahkan kita dari kebenaran sejati—yang kita pikir bisa menyelamatkan kita dari rasa malu atau perasaan tak berdaya. Namun sebenarnya hal itu hanya semakin menyengsarakan kita, karena orang yang kita bodohi adalah diri kita sendiri.

Untuk lepas dari jebakan ilusi, kita perlu melepaskan citra, label, julukan, sebutan, prasangka, tuduhan, atau pemikiran apapun yang kita miliki tentang sesuatu atau seseorang, dan melihat kenyataan apa adanya pada saat ini. Dengan begitu kita bisa selalu netral terhadap segala hal, terbebas dari perbudakan atas pemikiran yang kita ciptakan sendiri. Tanpa ada yang kita tuju atau sembah, jiwa kita merdeka.



Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender