Belajar Hidup
Suku Minang membagi
fase pendidikan mereka dalam 3 tahapan:
Surau, Lapau, dan Rantau.
Pada awalnya kita belajar di surau*
atau di dalam kelompok besar atau formal
(sekolah, masyarakat, agama, dst)
dan mendapatkan banyak teori dan konsep di sana.
Setelah itu kita beralih ke lapau*
dalam kelompok yang lebih kecil,
membahas pengajaran maupun contoh praktiknya
dalam kejadian sehari-hari sambil
menikmati kudapan dengan teman-teman.
Namun pada akhirnya kita semua harus mengalami rantau*—
menjalani sendiri jalan hidup kita masing-masing
untuk mempraktikkan bekal dari surau dan lapau.
Seperti mendaki gunung, awalnya kita
naik kendaraan besar (pesawat/bus/kereta api),
lalu yang lebih kecil (mobil/motor), tapi
di satu titik kita harus turun dari kendaraan apapun
dan berjalan kaki menuju puncak.
(Perumpamaan puncak gunung sebagai Kesadaran Tertinggi,
dan kendaraan adalah sistem)
Peribahasa Minang berpesan, “alam takambang jadi guru”—
artinya kita bisa belajar kehidupan dari Alam Raya atau
dengan mengalami kejadian di sekitar kita.
Maka, hidup bukanlah sekedar menghafal teori
atau membahas praktik—karena
bahasan bukanlah kebenaran itu sendiri.
Kita membaca untuk tahu, membahas untuk mengerti,
tapi hanya dalam Cinta Kasih lah muncul pemahaman mendalam—
ketika kita praktikkan nyata pada orang di hadapan kita. (—Shams Tabrizi)
Jadi hiduplah—memberi, menerima, jatuh cinta,
bertengkar, berbaikan, berbuat salah, menyadari salah,
meminta maaf, merelakan, dan terus berjalan—karena
ini semua adalah cara kita memahami makna.
Hidup ini bukan tentang benar/salah atau
siapa yang duluan/terhebat, tapi
tentang menjalaninya dalam Kesadaran penuh.
Yuk, sadar yuk!
*) Surau = pusat pendidikan dan kegiatan keagamaan umat Islam di Sumatera Barat
*) Lapau = warung/tempat berkumpul
*) Rantau = budaya mengembara/migrasi
Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 17 Februari 2025 di akun IG @ratuvictoria“Anda akan belajar dengan membaca, tetapi Anda akan mengerti dengan Cinta”
—Shams Tabrizi
(pujangga Persia abad ke-13 dan guru dari Jalaluddin Rumi)
Komentar
Posting Komentar
Silakan bagikan pemikiranmu di sini: