Membuat Batasan
Setelah paham tentang energi, frekuensi, dan vibrasi,
tentunya kita sekarang menjaga energi selalu murni.
Namun kita tidak bisa begitu saja
memblokir orang yang dirasa mengganggu.
Membuat batasan di kehidupan nyata
dimulai dari pola pikir, bukan di ranah fisik.
Pertama-tama, pisahkan dulu kenyataan,
dan abaikan yang bukan;
Contoh: semua “katanya” dan “sepertinya” adalah perkiraan,
bukan kenyataan.
Lalu, periksa batin kita—tentang
ucapan/perilaku/ kehadiran seseorang.
Jika ada gejolak, artinya jiwa kita menolak—artinya
mereka tidak selaras dengan frekuensi kita.
Pahami bahwa ini semua bukan tentang Diri mereka,
tetapi ego yang sedang aktif atau terluka.
Dan apapun yang mereka katakan atau lakukan itu
tidak pernah tentangmu—itu adalah urusan mereka
untuk belajar dan sembuh—
dan kita tidak perlu membantu jika mereka tidak memintanya.
Urusan kita adalah menjaga batin kita tetap tenang,
meski itu artinya harus “kehilangan teman/keluarga”.
Rasa sayang tidak berubah; kita hanya menjauh sejenak
dari frekuensi yang sedang mereka pancarkan—suatu hari
jika mereka sudah sembuh dari luka batin, kita bisa kembali akrab.
Sementara ini, jaga jarak aman dengan berinteraksi seperlunya;
ketus atau sinis menandakan kita terganggu
dan energi mereka sudah mempengaruhi kita.
Menghindar saja tanpa menyakiti perasaan,
lalu fokus pada hal-hal yang penting.
Semakin tinggi frekuensi kita, getaran semakin kuat,
dan yang mendekat semakin banyak.
Karena itu, menjaga batasan sehat
adalah kunci kedamaian diri.
Yuk, sadar yuk!
Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 8 Februari 2025 di akun IG @ratuvictoria
Komentar
Posting Komentar
Silakan bagikan pemikiranmu di sini: