Tentang Kesadaran

Jangan pernah merasa sadar.
Karena merasa sadar adalah pikiranmu yang mengambil alih
dan menganggap dirimu sudah di zona aman,
dan malah membuatmu jadi lengah.

Kamu merasa lebih baik dari orang lain
karena merasa sudah sampai “di atas”, 
sehingga jadi menilai orang lain yang “belum sampai”.

Dunia berputar; dinamika hidup naik-turun.
Tidak ada hal yang abadi, termasuk kondisi kita saat ini—
begitu kita berpikir kita sadar, 
saat itu juga kita jatuh ke kesombongan.

Sebaliknya, kesadaran berada dimana ego tidak ada—
pikiran tidak aktif; yakni momen dimana kamu 
sedang berkehidupan tanpa dikonsep, tanpa mengafirmasi, 
bahkan tanpa bersyukur—jadi hanya menjalaninya.

Maka untuk sadar pikiranmu harus bebas 
dari segala kenangan atau prinsip; 
memperhatikan hidup hanya pada saat ini (present moment).

Begitu kamu mulai berteori atau mencoba mendeskripsikan, 
pikiranmu sudah mengambil alih.

Pemikiran, kajian, atau bahasan tentang kesadaran 
bukanlah Kesadaran itu sendiri. 

Orang jawa bilang, “ngelmu iku kalakone kanthi laku”.
Artinya: kamu baru akan paham setelah menjalaninya.
Dan pemahaman hanya ada di dalam Cinta Kasih.

Karena itu, selalu pilih Cinta Kasih 
di mana pun kamu berada, apa pun kondisinya—terutama 
jika sebaliknya adalah pilihan yang lebih mudah.

Menunda reaksi ketika kita diperlakukan tidak adil 
adalah contoh tindakan yang datang dari Kesadaran—
kamu menyadari lingkaran karma dan trauma di sini, 
berani memutus rantai itu dengan memilih 
untuk merespons dengan penuh Kasih, yang membuatmu 
beralih ke frekuensi Kesadaran Tinggi yang penuh kedamaian.

Baru setelah itu pemahaman dari ilahi akan muncul padamu 
dan batinmu dengan sendirinya sembuh.

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono
Pertama kali tayang 8 Maret 2025 di akun IG @ratuvictoria

Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender