Tentang Kebaikan (II)

Apa kamu termasuk orang yang berprinsip 
“Jika kamu baik padaku, aku akan lebih baik; 
Tapi jika kamu jahat padaku, aku bisa lebih jahat”?

Jika ya, maka kebaikanmu masih punya syarat; 
Tindakanmu didorong dari rasa kekurangan 
karena hidupmu berdasarkan rasa takut—entah 
takut dimanfaatkan, takut dikhianati, atau takut kecewa (dst).

Kamu takut, karena jika ternyata 
kebaikanmu disalahgunakan maka kamu akan hancur—
kamu begitu melekat pada kebaikan 
sehingga takut akan keburukan.

Akibatnya hidupmu hanya menghindari 
ketakutan demi ketakutan—dan akhirnya mudah terpengaruh 
karena kebahagiaanmu bergantung pada keberhasilan ego 
atau pengakuan dari luar diri.

Sebaliknya, kebahagiaan hanya bisa ditemukan 
di dalam cinta tanpa syarat—yaitu ketika diri kita 
dipenuhi sifat welas asih yang tak memandang bulu.

Cinta Kasih berjalan di garis netral yang tipis 
di antara baik dan buruk, dan merangkul 
semua sisi kehidupan sebagaimana adanya.

Cinta Kasih hanya memberi, tak harap kembali—
karena ia selalu tercukupkan.

Dan ketika ada yang memanfaatkan atau mengkhianati, 
Ia mengikhlaskan—karena apa yang sudah ia berikan 
sudah bukan milikNya; dan kembaliannya adalah urusan Semesta.

Apapun yang terjadi setelahNya atau di luar diriNya 
bukanlah urusanNya—yang Ia tau hanya keadaan batinNya; 
selalu netral dan tak terikat apapun.

Ia bebas dari segala ketakutan 
karena bersumber dari Sang Maha yang tak berkesudahan.

Cinta Kasih ini ada di dalam diri setiap manusia, 
yang terlupakan karena pikiran mengambil alih.
Ia hanya perlu ditemukan kembali; terkubur di bawah ego 
yang perlu kita bongkar setiap hari.

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono 
Pertama kali tayang 1 Mei 2025 di akun IG @ratuvictoria

Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender