Kenapa Kita Beragama?

Sadarkah kalian, bahwa agama baru hadir 
di tanah Nuswantara sekitar 500 tahun terakhir?

Sebelum agama impor masuk, leluhur kita hidup berspiritual, 
harmonis dengan pergerakan alam, sehingga kita 
menganggap mereka sakti mandraguna—sesuatu
yang tidak lagi dikenal di dunia modern.

Ketika para penjajah mengambil alih kekuasaan 
dan pamomong bangsa (Sabdo Palon & Naya Genggong) terpaksa 
meninggalkan Nuswantara pada masa hukuman (Kala Bendu), 
hubungan kita dengan leluhur terputus karena dogma baru 
menghilangkan bukti sejarah dan melarang ritual apapun 
yang membuat kita terhubung dengan Alam.

Sebagai gantinya mereka mengajarkan konsep 
ketuhanan monoteisme tentang hal-hal yang tidak kasat mata (batiniah) 
dan mengatur tata perilaku kita sebagaimana dibutuhkan 
oleh pemangku kepentingan.

Pembelajaran baru juga memecah dunia yang universal 
menjadi dua kubu yang tidak saling bersinggungan: yaitu sains dan agama—
sehingga pola pikir kita terpisah-pisah dan 
tidak pernah menemukan jawaban atas kekosongan batin.

Kalau saja kita mau hening dan menghubungkan yang terpisah, 
kita bisa menemukan jawabanNya. 

Namun doktrin yang telah melekat selama beberapa generasi terakhir 
membuat kita kesulitan lepas dari jebakan pikiran 
dan takut untuk melangkah mengikuti hati nurani, 
karena sistemnya dibuat supaya kita berketergantungan.

Berpikir netral dan bermeditasi bisa membantu kita 
keluar dari belenggu ilusi dan mulai hidup berkesadaran.

Asah nurani dan nalarmu dengan mempertanyakan segala hal 
pada dirimu sendiri—sampai kamu mendengar suara halus 
di dalam dirimu; Sang Atman yang ada di kedalaman batinmu—
sehingga kamu bisa menjadi pribadi merdeka yang bebas 
dan menjadi versi terbaik dirimu apa adanya.

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono 
Pertama kali tayang 21 Oktober 2025 di akun IG @ratuvictoria

Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender