Bukan Berspiritual

Bukan berspiritual namanya jika emosi masih menguasaimu 
dan kamu berdalih ketimbang menyadarinya—ini adalah represi/menekan emosi.

Bukan berspiritual namanya jika kamu masih mengandalkan pengetahuanmu 
dan memegangnya sebagai kebenaran—ini adalah pembenaran diri.

Bukan berspiritual namanya jika masih ada tujuan yang ingin kamu capai, 
terlebih jika kamu memaksa  untuk mencapainya—ini adalah ambisi/hasrat.

Bukan berspiritual namanya jika pengetahuanmu kamu pakai untuk merendahkan
orang lain yang “belum sampai” di titikmu—ini adalah keangkuhan.

Bukan berspiritual namanya jika kamu hanya mencari pengalaman sensasional, 
dan menghindari trauma atau ketakutanmu—ini adalah pelarian.

Bukan berspiritual namanya jika kamu menghindari obrolan mendalam 
atau diskusi berat—ini adalah bypass atau melompati proses.

Bukan berspiritual namanya jika kamu gunakan untuk menoleransi 
ketidaknyamanan tapi tidak menjalani prosesnya—ini seperti zat penenang.

Bukan berspiritual namanya jika masih ada penilaian dalam benakmu 
terhadap orang lain, keadaan, maupun dirimu sendiri—ini adalah ego.

Berspiritual:
bukan tentang melakukan sesuatu (doing), 
tetapi tentang keberadaan apa adanya (being); 

bukan tentang apa yang telah berlalu atau akan terjadi, tetapi tentang saat ini;
bukan tentang siapa yang lebih (atau kurang), tetapi semuanya pas sesuai kapasitas;
bukan tentang yang duluan (atau belakangan), tetapi tentang saling membantu.

bukan tentang mereka, tetapi tentang Aku;
pengalaman fisikku, perjalanan batinku, dan pemahamanku tentang hidup.

bukan tentang aku, tetapi tentang kita—karena pada hakikatnya 
kita semua sama; sama-sama berjalan di Bumi ini untuk belajar dan berkesadaran.

Berspiritual adalah tentang menjalani hidup, 
dalam terang dan gelapnya, dalam kesunyian diri sekaligus bersama-sama.

Yuk, sadar yuk!


Teks oleh Victoria Tunggono 
Pertama kali tayang 7 November 2025 di akun IG @ratuvictoria

Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender