1. Fase Penderitaan
Penderitaan, menurut KBBI, berarti “keadaan menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan”. Ini adalah sebuah kata yang tidak asing bagi manusia—bukan hanya istilahnya, tapi pengalamannya betul-betul dialami oleh kita semua di dunia nyata.
Banyak orang merasa menderita di dunia ini, dan mengira bahwa penderitaan adalah hal wajar yang tidak ada obatnya. Dalam agama Islam, penderitaan dilihat tak lain sebagai fakta yang dapat terjadi pada setiap manusia.
Agama Kristiani melihat penderitaan sebagai pengalaman yang mendekatkan manusia pada pertobatan, mengukuhkan iman, mengambil sikap rendah hati dan mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.
Jika kita mau berhenti sejenak dan merenung, kita akan menyadari bahwa kita diciptakan untuk berbahagia. Penyadaran tentang inilah awal mula terciptanya agama Buddha.
Disebutkan seorang putra mahkota dari Kerajaan Shakya di Lumbini (daerah Nepal) bernama Siddhartha Gautama, yang kemudian disebut sebagai Sang Buddha Sakyamuni, mendapatkan pencerahan di Bodh Gaya dan berhasil mengurai penderitaan dalam hukum Cattari Ariya Saccani atau Empat Kesunyataan* Mulia.
Kesunyataan dalam bahasa Pali adalah sacca, (dalam bahasa Sansekerta adalah satya); adalah kebenaran yang terdapat dalam Alam Semesta, yang tidak terpengaruhi oleh waktu dan karenanya merupakan kebenaran abadi. Keempat kebenaran ini meliputi:
a. Dukkha Ariya Sacca (kesunyataan tentang penderitaan).
b. Dukkha Samudaya (kesunyataan tentang asal mula penderitaan).
c. Dukkha Nirodha Ariya Sacca (kesunyataan tentang lenyapnya penderitaan).
d. Dukkha Nirodha Gaminipatipada (kesunyataan tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan)
Empat Kesunyataan Mulia ini merupakan dasar dari pengajaran agama Buddha yang mendunia. Sang Buddha melihat bahwa hampir semua hal di dunia ini membuat kita menderita, seperti yang tertulis:
“Duhai para Bhikkhu, dukkha adalah suatu kesunyataan, kelahiran (jati) adalah dukkha, usia lanjut (jara), sakit (vyudhi), kematian (marana), berkumpul dengan orang yang dibenci, berpisah dengan yang dicintai, gagal dalam mengejar cita-cita, semuanya adalah dukkha, semua unsur kehidupan jasmani dan batin adalah dukkha.”
— Dhammacakkappavattana Sutta
Banyak yang menganggap Buddha Dhamma adalah ajaran yang pesimistis, tetapi Sang Buddha ingin menunjukkan pada manusia bahwa sesungguhnya ada kondisi sukkha, dimana tidak ada penderitaan dan yang ada hanya kebahagiaan, supaya manusia menjadi sadar, mencari cara untuk terlepas dari penderitaan, dan mengalami sendiri kondisi kebahagiaan yang dimaksud.
Untuk mengalami sukkha, kita perlu terlebih dahulu mengalami, menjalani, dan melampaui dukkha.
Pain is part of life. Suffering is an option.
(Rasa sakit adalah bagian dari hidup. Penderitaan adalah pilihan.)
—Tony Robbins
*) Sunya = kekosongan, kehampaan. Dalam ajaran Tantra (ketuhanan Hindu), Sunya merujuk pada pelampauan segala kondisi; realitas yang mutlak tapi tidak bisa dibayangkan. Kesunyataan adalah ketiadaan, ketuhanan. Tuhan disebut sebagai Sanghyang Paramasunya atau Hyang Sunya, sumber segalanya terlahir, hidup, dan kembali.
Memaknai dan Melampaui Penderitaan
Dalam pandangan spiritualitas, penderitaan adalah pertanda bahwa ada yang salah dalam cara kita berpikir. Jika kita merasa menderita, artinya ada hal yang tidak selaras antara kenyataan dan apa yang kita pikirkan/inginkan.
Namun bukan kenyataan yang seharusnya kita ubah, melainkan cara kita melihat kenyataan. Jika tetap memaksakan pemikiran, jangan heran jika kita terus dihantui stress, kelelahan, hingga depresi.
Sebaliknya, jika ingin keluar dari penderitaan, kita tinggal membalikkan cara kita melihat kenyataan sebagai pertanda dan pelajaran untuk segera mencari penawarnya. Ssst, biasanya jawabannya ada di pertanyaannya. Jadi pastikan pertanyaanmu tepat.
Lewat perenungan-perenungan di bawah ini kita akan membahas pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul tentang kehidupan, tetapi kemudian memandangnya dari sudut pandang yang lebih tinggi, supaya bisa memahami makna yang disampaikan Semesta lewat penderitaan, dan akhirnya melampaui fase ini dalam kesadaran batin dan terlepas sepenuhnya dari penderitaan.
Chaos invites change. Change invites healing.
(Kekacauan mengundang perubahan. Perubahan mengundang kesembuhan.)
— Anonymous
Catatan Tentang Ilusi
Pertama kali tayang 17 November 2021
Ilusi adalah sesuatu yang kita ciptakan dan terjadi hanya di dalam pikiran kita. Artinya, ilusi tidak dilihat maupun dialami oleh orang lain. Contohnya: rasa sesal, rasa bersalah, ketakutan, trauma, amarah, atau hal-hal yang belum terjadi.
Ilusi terasa nyata karena melibatkan emosi, dan ketika kita percaya, menjadi halusinasi. Ketidakmampuan membedakan mana yang ilusi dan kenyataan membuat kita delusional, karena berpikir membawa ilusi ke dalam kenyataan.
Present moment melatih kita hidup dlm kenyataan, supaya tidak kejebak dalam delusi.
Nothing hurts if you don’t let it.
(Tidak ada yang menyakitkan kecuali jika kamu izinkan.)
—Ernest Hemingway