3. Perjalanan Sembuh

Dari pengetahuan tentang tingkatan kesadaran dari bab sebelum ini, kita bisa melihat bahwa emosi-emosi yang seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari (terutama di Bab I) rupanya berada di kesadaran bawah, energi rendah, atau berupa emosi negatif—yang disebut juga kegelapan jiwa (dark night of the soul) atau bayangan jiwa; karena bukan merupakan sifat alami jiwa, melainkan produk dari ego/pikiran.

Di ranah spiritualitas, manusia yang pikirannya dikuasai ego disebut sebagai jiwa-jiwa terluka. Luka ini adalah luka batin akibat trauma di masa kecil, yang sudah dibahas di Bab I, yang menjadi akar penyebab atas gangguan perilaku maupun kesusahan hidup kita. 

Luka batin bisa disembuhkan, tetapi ini harus menjadi keputusan yang muncul dari diri sendiri. Jika kita tidak sepenuh hati ingin sembuh karena masih senang berperan sebagai korban atau nyaman dengan perhatian yang didapatkan, kita tidak akan sembuh. Ada begitu banyak terapi holistik  yang bisa dilakukan sebagai upaya sembuh, tetapi jika tidak dilakukan dalam kesadaran maka semua akan sia-sia. 

Seperti yang sudah dibahas di bab sebelum ini, kesadaran tinggi akan dicapai jika tidak ada ketakutan. Maka satu-satunya cara untuk sembuh adalah melepaskan semua rasa malu, minder, rasa bersalah, takut, benci, iri dengki, amarah, kesombongan batin, dan segala pemikiran berdasarkan dualitas. Dari titik netral, barulah kita bisa menapaki tingkatan-tingkatan kesadaran tinggi, dan otomatis sembuh dari semua luka batin dan bebas dari segala penderitaan.

Untuk latihan melepaskan takut dan belajar netral bisa dengan menulis jurnal, bermeditasi secara rutin, berdiskusi dengan teman sefrekuensi, serta melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih banyak terhubung dengan alam (grounding). Namun di samping ini semua, yang terpenting adalah revolusi pola pikir, dimana cara berpikir serba ketakutan dan kekurangan (mental miskin/mental korban) diganti dengan pola pikir berkelimpahan Kasih (abundance of love).



Belajar Melepaskan

Melepaskan atau letting go adalah salah satu hal yang paling sulit bagi manusia, karena sejak kecil kita sudah diajarkan untuk melekat: dengan identitas, dengan keluarga, dengan lingkungan pertemanan, dan segala embel-embel tambahan seperti status dan kepercayaan. 

Manusia merupakan makhluk sosial, tetapi juga makhluk individual. Guruku memberi ilustrasi fase kehidupan manusia dari budaya Minangkabau: surau, lapau, rantau. Waktu kecil kita belajar bersama teman-teman di ruang kelas (surau), lalu berdiskusi dalam kelompok kecil sambil makan bersama (lapau), kemudian berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing (rantau).

Artinya, semakin dewasa lingkaran sosial kita akan semakin kecil, dan di suatu titik kita akan berjalan sendirian. Pelajaran melepaskan dimulai dari melepaskan orang-orang yang sudah harus kita tinggalkan karena berbeda frekuensi atau perannya di hidup kita sudah selesai, hingga melepaskan ego yang memberatkan langkah kita. Di bab ini kita akan membahas pelajaran penting ini jika mau hidup bahagia dalam kesadaran.



Merombak Pola Pikir

Di sub-bab ini kita akan membahas latihan mengubah sudut pandang—dari kesadaran rendah yang penuh ketakutan menuju kesadaran tinggi yang penuh welas asih. 

Merombak pola pikir artinya berani melepaskan segala hal yang pernah kita dengar, baca, atau pelajari—dan mengkaji semuanya dari sudut pandang bird’s eye-view (sudut pandang tinggi) yang netral, objektif, dan menyegarkan. Seperti menonton program Benteng Takeshi*, sebagai pemirsa yang menyaksikan lewat kamera di posisi tinggi kita tahu pintu mana yang harus dilewati peserta; tetapi sebagai peserta yang tengah menjalani tantangan mereka tidak bisa melihat di balik pintu atau dinding karena hanya melihat dari sudut pandang mata manusia normal. 

Hidup berspiritual artinya menjalani kehidupan seperti biasa (bukan menjadi biksu atau pendeta) tetapi sesekali melihat situasi dari sudut pandang ilahi. Hal ini memungkinkan, jika kita belajar untuk berhenti sejenak dan menggunakan nalar untuk lepas dari identitas diri, dan memposisikan diri seolah-olah di kursi Tuhan/Sang Empunya Hidup—lalu bertanya pada diri sendiri: “kenapa Tuhan membiarkanku mengalami hal ini?”

Dalam bahasa Inggris, proses ini disebut “unlearning”*; yaitu membatalkan semua pembelajaran hidup, supaya kita bisa menjadi diri sendiri apa adanya, dan melatih kesadaran jiwa (higher consciousness) sehingga hidup berkesadaran (mindful).


_____

*) Sebuah program TV dari Jepang berjudul 風雲!たけし城 atau Fuun! Takeshi-jō yang tayang tahun 1986-1990 di saluran Tokyo Broadcasting System (TBS) dimana para peserta bertanding menghadapi berbagai tantangan untuk mencapai “Raja” Takeshi Kitano.

**) Di YukSadar, program ini tersedia dengan judul Reset Mindset yang berdurasi 12-jam.

Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender