Pandangan Ketuhanan

Setiap manusia yang dilahirkan di tengah sistem masyarakat membutuhkan pegangan dalam hidup untuk menjaga keseimbangan jasmani dan rohani. Hal ini difasilitasi oleh agama, yang menjadi tiang atau sokoguru yang kokoh menjaga nilai dan norma di dalam sebuah masyarakat.

Dalam falsafah Jawa agama dianggap sebagai ageman atau pakaian—yang mengatur cara manusia menampilkan diri dan berperilaku di depan orang lain. 

Namun agama tidak memfasilitasi ranah batin; hanya memberi arahan dan garis besarnya saja. Ranah batin bisa diselami dengan mendalami spiritualitas—yang terpisah dari agama tapi tetap berhubungan. 

Ibaratnya agama adalah kendaraan yang membawa kita dari bawah hingga ke puncak gunung; pada suatu titik kita tetap harus memarkir kendaraan karena jalannya semakin sempit dan curam untuk dilewati kendaraan. Kita masing-masing harus meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menuju puncak, yang tentunya terasa lebih berat dan sepi. 

Jangan khawatir; akan selalu ada penunjuk jalan atau pemandu berupa guru spiritual, buku-buku, atau diskusi kesadaran dalam lingkup yang lebih kecil daripada institusi agama. Hal ini akan dibahas lebih lanjut di Bab III dan Bab IV. Di sub-bab ini kita akan membahas pandangan Ketuhanan dan tentang beragama secara umum.


Tahapan Keimanan

Memasuki tingkat kalibrasi 500 (Peta Kesadaran), manusia memasuki kesadaran spiritual atau kesadaran jiwa, dan mampu mentransendensi dualitas linier. Dalam tahapan keimanan, manusia telah melampaui tahap syariat-tarekat.

Tahapan keimanan manusia dibagi mengikuti empat filosofi penelitian kualitatif:

1. Axiology
(studi tentang nilai dan penilaian dan segala sesuatu yang dianggap bernilai);
dalam ranah agama menjadi struktur dasar dan menjalankan semua yang dianggap penting di ranah materi/fisik; yang juga dikenal sebagai tahapan syariat/sharia (Islam), scientism (Kristiani), jignasu (Buddhism), bakti marga (Hindu), dan sembah raga (Jawa).

2. Methodology
(sistem tentang metode/cara/ strategi dan pembenaran dalam membangun sebuah pengetahuan);
dalam ranah agama melingkupi semua aturan dan tata cara beribadah; yang juga dikenal sebagai tahapan tarekat/tariqa (Islam), methodism (Kristiani), sadhaka (Buddhism), karma marga (Hindu), dan sembah cipta (Jawa).

3. Epistemology 
(sumber pengetahuan yang berkaitan dengan metode, keabsahan, dan cakupannya; menyelidiki hubungan antara subjek dan apa yang diketahui);
dalam ranah agama sudah melampaui dunia materi/fisik dan masuk ke alam batin/kejiwaan dan pemaknaan atas tindakan atau pemikiran seseorang; yang juga dikenal sebagai tahapan hakikat/haqiqa (Islam), essentialism (Kristiani), arudha (Buddhism), jnana marga (Hindu), dan sembah jiwa (Jawa).

4. Ontology (ilmu metafisika yang membahas hakikat keberadaan dan tentang apa yang benar-benar ada); dalam ranah agama membahas tentang kebenaran dan ketuhanan; yang juga dikenal sebagai tahapan makrifat/ma'rifa (Islam), gnosticism (Kristiani), arahant (Buddhism), raja marga (Hindu), dan sembah rasa (Jawa).

Keempat tahapan ini akan dialami oleh setiap manusia, hanya berbeda waktu dan prosesnya. Jika di awal kehidupan hanya fokus untuk melakukan kewajiban-kewajiban dan taat pada aturan, maka di masa dewasa akan lebih mempertanyakan semua hal: pengetahuan, pengalaman, pendapat/filsafat, hingga menemukan kebenaran sejati tentang keberadaan dan kehidupan.

Tabel di bawah ini akan memberi gambaran lebih jelas tentang perbedaan tiap tahapan, yang akan lebih mudah dipahami jika dijabarkan dari ranah agama:



Komentar

Baca Juga:

Hukum Tarik-Menarik

Hukum Getaran

Hukum Gender